IC-ELSEI 2026, Langkah FEB Universitas Narotama Membangun Kolaborasi Multidisiplin Berbasis Inovasi dan Jejaring Internasional
28 Agustus 2026, 04:56:49 Dilihat: 12x
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Narotama terus memperluas jejaring akademik melalui penguatan kolaborasi nasional dan internasional. Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan IC-ELSEI 2026 (International Conference on Economics, Law, Social, Engineering and Innovation) yang mempertemukan berbagai bidang keilmuan dalam satu ruang kolaborasi.
Dekan FEB Universitas Narotama, Dr. H. Agus Sukoco, S.T., M.M., menjelaskan bahwa pengembangan kolaborasi lintas disiplin menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan dunia pendidikan, teknologi, dan bisnis yang semakin terintegrasi.
“Di era sekarang ini tidak bisa kita berdiri sendiri hanya ekonomi saja. Kita harus bermitra dengan bidang ilmu lain, terutama dalam bidang digital business, IoT, robotik, international business, dan bidang-bidang engineering lainnya terkait dengan inovasi,” ujar Dr. Agus.
Menurutnya, FEB Universitas Narotama yang menaungi Program Studi Manajemen, Akuntansi, serta Magister Manajemen perlu mempersiapkan mahasiswa agar memiliki pemahaman yang adaptif terhadap berbagai karakter industri. Dunia kerja tidak lagi berjalan dalam batas-batas disiplin ilmu yang kaku.
Seorang lulusan manajemen, misalnya, dapat bekerja di industri konstruksi, otomotif, teknologi informasi, keuangan, maupun berbagai sektor lainnya. Karena itu, pemahaman terhadap karakteristik bidang yang digeluti menjadi penting.
“Ilmu tidak bisa berdiri sendiri. Kalau kita bekerja di perusahaan IT, misalnya, orang manajemen juga harus mengetahui tentang IT. Kalau masuk ke industri otomotif, harus memahami karakter industrinya. Maka dari itu harus ada kolaborasi,” jelasnya.
Dalam pengembangan IC-ELSEI, FEB Universitas Narotama membangun kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Untuk jejaring internasional, Universitas Narotama menjalin kolaborasi dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia dan Universiti Malaysia Kelantan (UMK). Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari implementasi kerja sama yang telah dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU).
Salah satu fokus kerja sama dengan UPSI adalah pengembangan smart business, termasuk riset smart farming berbasis teknologi informasi dan Internet of Things (IoT).
Prof. Dr. Che Zalina Zulkifli, yang dalam kolaborasi tersebut memiliki fokus pada bidang international mobility dan advanced education di UPSI Malaysia, turut mengembangkan gagasan smart farming. Konsep tersebut memungkinkan pengelolaan pertanian dilakukan secara lebih modern dengan memanfaatkan teknologi.
“Smart farming itu mengelola pertanian dengan IT. Apa yang ada di kebun nanti bisa dipantau lewat handphone, mulai dari keadaan kebunnya sampai proses penyiramannya. Jadi pemilik tidak harus datang langsung ke sana,” terang Dr. Agus Sukoco.
Kolaborasi tersebut juga dikaitkan dengan proyek yang dikembangkan di Indonesia, salah satunya di Wonosalam. Menurut Dr. Agus, kerja sama tersebut tidak berhenti pada konferensi, tetapi diarahkan menuju kolaborasi riset dan pengembangan proyek bersama.
Sementara itu, kolaborasi dengan Universiti Malaysia Kelantan turut memperkuat aspek international marketing dan entrepreneurship. Salah satu mitra, Wan Mohd Nazdrol Wan Mohd Nasir, Ph.D., memiliki fokus pada bidang pemasaran internasional dan entrepreneurship.
Adapun Dr. Salem Abdullah Salem Gharba turut membawa perspektif di bidang teknologi dan transformasi digital dalam kolaborasi IC-ELSEI. Kehadiran perspektif teknologi tersebut melengkapi kolaborasi FEB Universitas Narotama dalam mengintegrasikan ekonomi dan bisnis dengan perkembangan teknologi informasi, digitalisasi, dan inovasi.
Tidak hanya membangun jejaring dengan perguruan tinggi di Malaysia, FEB Universitas Narotama juga memperluas kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan institusi pendidikan tinggi di Indonesia.
Kolaborasi tersebut antara lain melibatkan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Universitas Maritim AMNI, serta STIE Pemuda Surabaya.
Dari PENS, Prof. Riyanto Sigit, S.T., M.Kom., Ph.D., yang memiliki bidang keahlian pada informatika dan computer engineering, turut memperkuat aspek teknologi dan robotik. Kolaborasi diarahkan pada pemanfaatan robotika dan otomatisasi untuk mendukung pengembangan bisnis dan sektor lainnya, termasuk kesehatan.
Dari Universitas Airlangga, Prof. Rossanto Dwi Handoyo, S.E., M.Si., Ph.D., yang merupakan akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, memperkuat perspektif international business.
Sementara dari UNESA, Assoc. Prof. Dr. Agung Prijo Budijono, S.T., M.T., yang memiliki bidang teknik mesin dan mekatronika, turut memperkuat pengembangan teknologi untuk sektor usaha dan UMKM. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah integrasi mekanik, elektronik, sensor, dan robotika untuk meningkatkan efisiensi produksi.
“Misalnya mesin untuk memasak kedelai dalam produksi tempe bisa dilengkapi sensor sehingga tingkat kematangannya dapat dikontrol. Jadi lebih efisien,” jelas Dr. Agus.
Kolaborasi juga diperkuat oleh akademisi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, antara lain Dr. Ir. Tukimun, S.T., M.T., yang memiliki perhatian pada pengembangan transportasi modern, termasuk konteks pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sementara Dr. Imam Nazarudin Latif, S.E., M.Si., AK., CA, turut memperkuat bidang ekonomi dan pengembangan kerja sama riset, publikasi ilmiah, serta proyek kolaboratif.
Dari sektor maritim, Dr. H. M. Ikhsan Setiawan, S.T., M.T., dari Universitas Maritim AMNI, membawa perspektif blue economy, termasuk pengembangan ekonomi pesisir, perikanan, pengolahan hasil laut, serta pemanfaatan energi terbarukan.
Menurut Dr. Agus Sukoco, pemanfaatan energi terbarukan juga memiliki potensi besar untuk mendukung masyarakat pesisir, termasuk nelayan, sehingga ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dapat dikurangi.
Sebagai bagian dari kolaborasi multidisiplin, Universitas Narotama sendiri mengambil peran pada bidang ekonomi dan hukum.
Menurut Dr. Agus Sukoco, aspek hukum menjadi sangat penting dalam pengembangan bisnis karena aktivitas ekonomi harus berjalan dengan dasar legalitas yang kuat.
“Jangan sampai bisnis terkena masalah hukum. Harus menghadirkan orang-orang hukum supaya bisnis kita aman dan legal,” ujarnya.
Kolaborasi internal Universitas Narotama juga diperkuat oleh Dr. Joko Suyono, S.E., M.M., M.H., Ph.D., selalu Kepala Program Studi Magister Manajemen, khususnya dalam pengembangan bidang manajemen dan ekonomi.
Dengan demikian, IC-ELSEI tidak sekadar menjadi forum untuk membahas ekonomi, tetapi menjadi ruang pertemuan antara ekonomi, hukum, teknologi, engineering, bisnis internasional, transportasi, robotika, hingga inovasi.
Dr. Agus Sukoco menegaskan bahwa conference merupakan salah satu pintu masuk untuk membangun kerja sama yang lebih luas. Setelah pertemuan akademik, kolaborasi diarahkan untuk berkembang menjadi riset bersama, publikasi, proyek, mobilitas mahasiswa, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Agenda rutin kita adalah conference. Ini menjadi mimbar kita, baik nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Ke depan, FEB Universitas Narotama juga berencana memperluas jejaring dengan perguruan tinggi lainnya, termasuk dari Jakarta dan berbagai kampus lain dengan bidang keilmuan yang semakin beragam.
Pengembangan jejaring internasional juga tidak akan berhenti di Malaysia. FEB Universitas Narotama membuka peluang untuk memperluas kolaborasi ke negara lain, termasuk Taiwan dan Tiongkok.
Selain conference dan riset, kolaborasi internasional juga diarahkan pada program student mobility. Mahasiswa tidak hanya diajak mengunjungi perguruan tinggi mitra, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenai budaya, lingkungan akademik, serta dunia industri di negara tujuan.
Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan melalui kegiatan community service atau pengabdian kepada masyarakat.
“Kita harus memberi sesuatu, Memberikan solusi, memberikan sesuatu yang bermanfaat,” kata Dr. Agus Sukoco.
Dalam salah satu bentuk pengabdian masyarakat internasional, Prof. Dr. Che Zalina Zulkifli juga disebut memberikan dukungan sebesar 10 ribu ringgit Malaysia untuk kegiatan yang ditujukan kepada masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren.
Menurut Dr. Agus Sukoco, penguatan kolaborasi internasional juga memiliki keterkaitan dengan upaya Universitas Narotama dalam meningkatkan mutu dan mencapai indikator akreditasi unggul.
Kerja sama yang sebelumnya dilakukan dalam lingkup nasional terus ditingkatkan ke level internasional. Dengan demikian, aktivitas akademik tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi diwujudkan melalui aktivitas nyata berupa riset, mobilitas, konferensi, pengabdian masyarakat, dan berbagai bentuk implementasi lainnya.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan memberikan dampak langsung terhadap mahasiswa dan alumni.
“Alumni kita tingkatkan dari skalanya lokal, menjadi level internasional,” tutur Dr. Agus Sukoco.
Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan akademisi dan ilmuwan dari negara lain dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan dari buku, berita, atau sumber digital, tetapi memiliki kesempatan untuk berdiskusi dan bekerja sama secara langsung dengan akademisi dari berbagai negara.
“Sudah bisa diskusi langsung dengan ilmuwan di negara lain, tidak sekadar melalui berita. Itu yang kita harapkan, confidence-nya meningkat, skill-nya juga akan meningkat,” katanya.
Menutup wawancara, Dr. Agus Sukoco menegaskan bahwa perguruan tinggi harus terus berkembang dan berinovasi. Menurutnya, lembaga pendidikan tidak boleh berhenti pada satu level maupun satu kawasan.
“Kita ini mengelola pendidikan, ini mesti berkembang dan berinovasi. Tidak hanya berhenti pada satu level, tetapi level kita harus terus meningkat,” tegasnya.
Ia berharap kolaborasi yang dibangun Universitas Narotama tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar menjadi aktivitas akademik yang memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, masyarakat, dan institusi.
Melalui IC-ELSEI, FEB Universitas Narotama menunjukkan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan yang semakin terbuka, multidisiplin, inovatif, serta terhubung dengan jejaring akademik dan industri di tingkat nasional maupun internasional.